.jpg)
Fenomena galau bukan hanya
menjangkiti anak muda tetapi seolah menjangkiti setiap generasi, mulai dari
anak-anak, para remaja bahkan orang-orang tua. anak-anak galau dengan
permainan-permainan mereka, para remaja galau dengan status dan hubungan
mereka dengan lawan jenis, sementara orang-orang tua galau dengan pekerjaan dan
tanggungjawab mereka.
Fenomena galau ini disebabkan karena
ketidak ridhoan seseorang terhadap kadak dan kadar yang telah ditentukan oleh
Allah, dan ketidak tahuan kepada siapa harus menyandarkan diri dikala tertimpa
masalah atau kesusahan dalam kehidupannya. Bahwa setiap manusia senantiasa
menginginkan kebaikan-kebaikan bagi dirinya akan tetapi Allah yang maha tahu
apa yang terbaik untuk hambanya kadang memiliki kehendak yang berbeda, dengan
menunda atau bahakan tidak memberikan apa yang mereka pinta. Akibatnya
terjadilah fenomena galau ini, “kenapa ini terjadi padaku?” atau “kenapa aku
tidak mendapatkan apa yang akau mau?” adalah kata-kata yang sering muncul
ketika seseorang terjangkit kegalauan.
Hal ini tentu bukanlah ciri-ciri dan
akhlak seorang mukmin, karena seorang mukmin tidak mengenal fenomena galau ini.
Dalam islam, sikap yang harus dilakukan adalah “sabar” sebagaimana sabda
Rasululloh SAW Dari Shuhaib bin Sinan dia berkata: Rasulullah bersabda: “Alangkah
mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa)
kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia
mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya,
dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan
baginya” (HR. Muslim No. 2999)
Rasululloh S.A.W. menggambarkan
bahwa setiap orang yang beriman akan selalu berfikir dan bersikap positif, yang
menggambarkan keindahan akhlak seorang mukmin. Ketika mendapatkan suatu
kebaikan, ia refleksikannya dengan bersyukur kepada Allah swt. Karena ia yakin,
bahwa semua kebaikan yang ia dapatkan adalah datang dari Allah. Dan ketika
mendapatkan suatu musibah, ia akan meresponnya dengan sikap sabar. Karena ia
yakin, bahwa Allah lebih mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hambanya.
Sehingga seorang hamba Allah yang beriman akan mengembalikan semua masalahnya
kepada Allah.
Setiap orang yang beriaman kepada
Allah tentu tidak akan berlama-lama dalam kesediahan, apalagi menyelahkan Allah
atas kesedihannya, akibat dari ia lalai dari mengingat Allah. Maka tepatlah apa
yang telah Allah ajarkan dalam dalam firman-Nya: “Dan bersabarlah kamu
bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari
dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta
menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi:
28)
Maka tindakan yang seharusnya
dilakukan bagi seorang hamba yang beriman adalah sebagaimana yang diajarkan
pula oleh Allah dalam firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang
yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). Sesungguhnya sabar dan shalat
merupakan obat terbaik bagi penyakit galau, pernahkah ketika berwudhu kemudian
kita merasa hati kita menjadi lebih tenang atau pernahkah kita merasakan
ketiaka kita mengerjakan shalat semua masalah seakan sirna. Itulah mengapa satu-satunya
obat mujarab dari fenomena galau ini adalah mengembalikan semua persoalan
kehidupan ini kepada Allah. Ketiak kita mendapat musibah, maka hendaknya kita
bersabar. Dan ketika kita mendapatkan kenikmatan, hendaknyalah kita bersyukur.
Alangkah indahnya ajaran islam ini,
setiap sendi kehidupan telah Allah atur. Setiap persoalan telah Allah sediakan
jalan keluar, setiap penyakit telah Allah sediakan obatnya. Maka ketika kita
mencari di luar dari apa yang ada pada Allah, maka yang akan kita temui hanya ketidak
tenangan dalam jiwa, keputus asaan dalam harapan. Maka tepat apa yang
dikhawatirkan Rasululloh saw, sebagaimana sabdanya Dari Anas bin Malik ra,
bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian
mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan
sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya Allah,
teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah
aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)
Betapa banyak fenomena galau yang berujung pada bunuh diri dan putus asa,
karena kurangnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Hati mereka lebih dekat
dengan keduniawian sehingga lalai untuk mengingat Allah. Namun, bagi seorang
yang beriman dan yakin akan pertolongan Allah akan selalu menyandarkan dirinya
pada Allah. Mereka yakin bahwa setelah ada kesusahan ada kemudahan, mereka
yakin bahwa ketentuan-ketentuan Allah adalah yang terbaik untuk dirinya.
Akhirnya semoga kita mampu menjadi
hamba Allah yang bersabar dan terhindar dari fenomena galau ini, sebagaimana
sikap Nabi Musa as yang diabadikan dalam Al-quran: “Musa berkata:
"Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku
tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun."( Al-Kahfi:69).
Karena sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang diberikan ganjaran
tanpa batas oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam surah Az-Zumar. "..........Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar